Online

Online

“Kamu baca Winnetou?” tanyanya, sesaat setelah kami saling cocok di Tinder.

“Iya,” jawabku. “Juga Kara Ben Nemsi.”

Bukannya bermaksud sombong, tapi entah kenapa kalimat ini keluar begitu saja: “Aku juga nulis lho.”

“Sudah punya buku?”

“Baru satu novel. Itu pun di penerbit kecil.”

“Keren. Kalau nggak keberatan, boleh lanjut di whatsapp?”

“Tentu.” Aku memberikan nomorku padanya, dan tidak berapa lama ia menyapaku.

“Hai. Aku yang di Tinder.”

“Okay,” balasku, “aku save ya.”

Aku baru selesai menyimpan nomornya ketika dia menelpon lewat whatsapp.

“Kamu suka Jazz?”

Pastinya itu dari foto profilku saat nonton festival jazz di Singapura Rabu lalu.

“Baru aja balik dari festival Sabtu kemarin.”

“Ceritain dong,” pintanya.

“Daniel datang langsung dari Skotlandia sesaat setelah mereka menonton pertandingan Liverpool vs Manchester City,” kataku. “Dia bintangnya tahun ini.” Kemudian ia bertanya seputar band favoritnya. Kubilang Earth, Wind and Fire memukau seperti biasanya, memainkan lagu-lagu lama dan beberapa lagu terbaru. Aku baru akan bercerita tentang penampilan Sergio Mendes ketika tiba-tiba sambungan telepon kami terputus.

Mungkin jaringannya sedang bermasalah, pikirku.

Keesokan harinya kami bertukar cerita tentang film. Oh, ternyata kami sama-sama menyukai The Usual Suspects. Tentu saja bagian terkeren adalah saat Verbal Kint melenggang keluar dari kantor polisi dan dengan santai dia menyalakan rokok. Ia juga menceritakan film Baran, tentang cinta yang tidak harus memiliki dan juga tentang pengorbanan. Namun ia terpaksa mengakhiri ceritanya karena …

“Suamiku pulang,” ia berkata. “Ma’afkan aku.”

Suaminya tujuh tahun lebih tua darinya, seorang pengusaha pabrik kimia dengan reputasi internasional. Ia sering menemani suaminya pergi ke pesta-pesta dan beberapa pertemuan penting. Di saat itulah ia seolah menjadi seorang wanita terhormat. Akan tetapi, ia tidak pernah merindukan masa-masa itu, kecuali cintanya pada suaminya tidak pernah berubah. Ia cemburu melihat suaminya dekat dengan perempuan lain meskipun itu dalam urusan bisnis. Dan belakangan ini suaminya sedang dekat dengan seorang perempuan. Usia perempuan itu dua puluh tiga tahun lebih muda dari usia suaminya. Cantik dan kaya raya. Selama berjam-jam ia bercerita tentang cinta yang dikhianati serta perasaannya yang rapuh, hingga akhirnya hanya tersisa isak tangis.

“Sayang … Bisakah kita bertemu?”

“Tentu,” jawabku.

* *

Pagi itu taman belum terlalu ramai, sejuknya lebih dekat ke dingin meskipun matahari sudah cukup tinggi. Aku langsung mengenali dirinya yang mengenakan jaket coklat muda dan celana jeans. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Mariam seperti yang tertulis di kartu namanya dengan gelar Doktor. Ia seorang dokter bedah syaraf di salah satu rumah sakit terkenal di Bandung. Juga seorang konsultan keuangan berlisensi. Aku lupa mengatakan padamu kalau ia sangat mahir memasak. Kau pasti langsung tahu kalau kukatakan nama channel YouTube-nya. Kami duduk di bangku kayu, di pinggir jalan kecil yang dilalui orang-orang untuk lari pagi atau sekedar jalan kaki.

Sejenak ia memandangku. Kemudian ia menceritakan masa kecilnya, tentang kehidupannya selama kuliah hingga pertemuan pertama ia dengan suaminya seperti yang pernah disampaikan padaku. Kisah cinta mereka sangat jelas. Ia dan suaminya melalui masa-masa menderita di awal pernikahan. Setelah enam tahun mereka berhasil membangun sebuah bisnis besar. Tapi ia malah terlihat cemas. Kebahagian mereka akan hancur dalam sekejap hanya karena perselingkuhan.

Ia merapatkan tubuhnya, memegang kedua tanganku, lalu berkata: “Sayang, kau memikat seperti halnya laki-laki yang selalu kuimpikan. Kini aku menjadi tenang setelah bertemu denganmu. Ah, kau tidak lebih tua dari usia anak bungsuku, tapi kau lebih dewasa dari ketiga anakku.” Kemudian kami saling berpelukan hingga kami merasakan kenyamanan dan keintiman yang dalam. Ia juga mengecup kening dan bibirku. Dalam pandangan yang dipenuhi perasaan bahagia, ia melanjutkan, “Tapi aku tidak akan mengorbankan pernikahanku demi engkau.”

Di usia pernikahannya yang kedua puluh sembilan, boleh dibilang suaminya sangat setia padanya. Suaminya selalu mengabarkan keadaannya dan memastikan semuanya berjalan lancar. Mariam sering menyelidiki suaminya, tapi tidak pernah sakalipun menemukan suaminya berselingkuh. Dan perempuan yang membuatnya sangat cemburu itu? Ia hanya teman bisnis. Tidak lebih. Tapi, Mariam tidak menyesal pernah mengenalku. Sungguh. Aku pun demikian. Meskipun usiaku terpaut tiga puluh enam tahun darinya. Jarak yang teramat jauh untuk wanita yang jatuh cinta pada mahasiswa tingkat tiga.

* * *

Leave a Reply

Close Menu